DERING TELEPON DARI SEBERANG (Part-2)



Masih teringat jelas peristiwa dering telepon tempo hari. Ketika hal ini saya ceritakan dengan rekan-rekan guru, mereka justru tertawa cekikikan. Lah.... ternyata juga mereka terkadang suka mengalami hal-hal aneh diluar logika manusia.

Baca lagi ya kalo dah lupa >> DISINI

“Mungkin orang tuh mau berkenalan sama Pak Rahmad....” Komentar mereka sembari tersenyum penuh misteri. Hasyeem dah, pikirku.

Semenjak saat itu, beberapa kali sempat diisengi ‘penghuni lama’ sekolah. Pulpen yang diletak di meja mendadak hilang atau berpindah tempat, bunyi meja diketuk-ketuk hingga monitor komputer yang mendadak mati dan hidup kembali. Sampai disini saya masih merasa biasa saja. Yang bikin kening berkerut justru timing gangguan tersebut. Kok ya di siang bolong, waktu dimana makhluk bernama manusia sedang berada dipuncak aktifitasnya.

Dilain waktu, mergokin murid yang menjelang Magrib masih ada di sekolah. Wajar kali ya, mengingat untuk unit SD ada 2 ship waktu belajar, pagi dan siang. Tapi kok ya merasa aneh...
Kalau tak salah kejadian ini ditahun 2009. Ditahun ini sempat ngekost di rumah yayasan, pemilik sekolah.

Rumah tepat berada didepan sekolah dengan pintu belakang yang langsung memiliki akses ke halaman sekolah, tepat didekat gerbang. Kamar yang saya tempati berada dibelakang rumah dengan akses pintu sendiri. Jadi tak perlu masuk rumah jika ingin ke kamar. Kalau pintu belakang dibuka, maka seluruh area sekolah dapat terpantau dengan jelas.

Nah... kala itu menjelang Magrib, saya duduk di teras musholla menanti azan berkumandang. Suasana remang-remang menjadi nuansa petang yang musti dinikmati. Tidak seluruh area sekolah diterangi lampu. Ada beberapa tempat yang tampak gelap gulita, seperti kelas dipojok sekolah milik unit SMA.

Ketika asik ngutak atik handphone, terdengar langkah dari arah gerbang. Saat mengangkat kepala, terlihat seorang murid SD setengah berlari menuju kelas yang saat itu tampak gelap. Seingat saya, anak ini masih berpakaian sekolah dan kelas yang dituju berdekatan dengan kelas SMA.

Reflek saya teriak, “Hey....mau kemana?”

Bukan berhenti, tuh anak malah berlari. Heningnya suasana membuat langkah kecilnya terdengar nyaring. Tak ada perasaan aneh kala itu, menganggap murid sore mengambil benda miliknya yang tertinggal di kelas. Beberapa lama ditunggu, tak terlihat si anak keluar dari kelas hingga azan Magrib berkumandang.
 
Lokasi si 'murid SD' yang tak nongol kembali [foto di tahun 2016]
Penasaran, saya pun berniat mengecek ke kelas. Baru berjalan beberapa langkah, terdengar langkah cepat yang diseret. Sejenak tertegun ketika muncul sosok tua dari kegelapan. Ternyata..... penjaga sekolah yang kami panggil Nenek. ^^

“Nenek baru ngunci kelas SMA ya?” Tanyaku padanya.
“Iya. Kenapa rupanya Pak Rahmad?” Nenek balik tanya.
“Ada liat anak SD masuk kelas? Dari tadi saya tungguin kok gak balek-balek.” Tanyaku kembali.
“Ahhh gak ada orang kok.....”

Lahh..... jadi tadi itu siapa?
Tanpa memperpanjang obrolan, saya langsung masuk rumah. Ambil motor dan ngacir ke Masjid. Berusaha tak memperdulikan bulu kuduk yang seketika berdiri. Brrr......

***

Kawan.....
Bertemu makhluk astral atau sekedar merasakan eksistensinya merupakan ‘resiko’ kita sebagai sesama makhluk ciptaan-NYA yang sama-sama tinggal di alam dunia. Keberadaan mereka sejatinya mengingatkan kita untuk percaya pada yang ghaib, salah satu syarat keimanan kita (sebagai Muslim) akan adanya Sang Khalik yang juga bersifat ghaib.

Takut? Pasti.....
Sesuatu yang tidak jelas kapan, dimana dan seperti apa wujud yang akan dilihat biasanya menimbulkan dua perasaan ; penasaran atau takut. Ketakutan yang dialami adalah sesuatu yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika ketakutan yang muncul menjadikan kita pribadi penakut.

Jalan ditempat gelap takut, di rumah sendiri takut, lewat kuburan takut, atau sekedar membaca/mendengar cerita horor juga takut. Saya malah curiga, orang yang merasa takut dengan makhluk ghaib justru sedang menikmati ketakutan yang dialami. Biasanya ketika sedang ‘menikmati sesuatu’, kita cenderung senang melakukannya secara berulang-ulang dan terus menerus.

Menikmati ketakutan tentu dalam arti tidak menyadari kalau sedang menikmati. Deeuh... ribet yak bahasanya. Abaikan ajalah... ^^
Tak bisa dipungkiri, ketakutan kita akan makhluk ghaib lebih banyak dipengaruhi oleh tontonan. Film-film horor sukses memframing otak kita untuk menggambarkan makhluk ghaib dengan sosok hantu bernama Sundel Bolong, Genderuwo, Kuntilanak, dkk.

Saya pernah membaca buku karangan Isa Daud tentang alam ghaib. Dalam satu bab dijelaskan, ketika makhluk ghaib (kita sepakat ya nyebutnya dengan jin) hadir di alam manusia, sebenarnya mereka dalam keadaan yang selemah-lemahnya. Sekali lagi saya ulangi, selemah-lemahnya.

Jadi, seandainya didepan kita muncul sosok jin kemudian kita lempar mereka dengan batu besar kemudian mati. Maka mereka akan mati dalam arti yang sebenarnya. Akan tetapi, ketika rasa takut sudah menguasai hingga kita memvisualkan jin dengan sosok hantu yang sering kita tonton dalam film-film, maka bisa jadi mereka akan benar-benar muncul seperti sosok yang kita bayangkan.

Percayalah, sampai kiamat pun jin dan konco-konconya tidak akan mampu mencelakai kita secara langsung. Kalau pun bisa, biasanya mereka memakai jasa seorang agen bernama dukun yang dengan kebodohannya menghamba pada mereka. Dan tak usah merasa takut, toh kita sudah punya cara untuk menangkalnya. Senantiasa membaca Al Quran di rumah, membaca Ayat Kursi atau tiga surah Qulhu (Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas) sebelum tidur. Insya Allah sudah lebih cari cukup membentengi kita dari serangan-serangan ghaib.

Yuk ah..... hadapi rasa takutmu!!

Posting Komentar

0 Komentar